• HOME
  • ARTIKEL
  • FEATURE
  • BERITA
  • FOTO
instagram twitter instagram

DRIE-JOURNALIST

read more & learn more!


cr image: google.com

Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu Kota Madya yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Memiliki luas wilayah 38,438 yang berjarak 80 KM dari kota Medan (Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara) atau hanya membutuhkan waktu 2,5 jam perjalanan. Karena terletak pada lintas utama Sumatera menjadikan Kota Tebing Tinggi sebagai penghubung lintas diagonal ruas Jalan Tebing Tinggi – Pematangsiantar – Parapat, Balige hingga Siborong-borong. Orang-orang yang bermukim di Kota Tebing Tinggi terdiri dari suku bangsa Melayu, Batak, Jawa, dan Tionghoa yang menjadikan Kota Tebing Tinggi memiliki keunikan tersendiri.

Sepanjang perjalanan menuju Kota Tebing Tinggi akan disuguhkan pemandangan pohon-pohon sawit serta pohon-pohon besar lainnya yang tersusun rapi yang membuat decak kagum. Barulah, ketika sampai di gapura “Selamat Datang Di Kota Tebing Tinggi” akan terasa hawa-hawa melayu yang khas.

Karena etnik melayu yang masih kental tak jarang disepanjang jalan masih bisa ditemukan bagunan-bangunan khas melayu yang berdiri kokoh atau bangunan-bangunan China kuno yang menarik dan jika ditelisik lebih dalam memiliki makna sejarah. Selain itu, kearifan lokal melayu ini bisa dijadikan objek wisata sekaligus menambah informasi, seperti bangunan bekas Istana Kerajaan Padang di Jl. KF Tandean, Bulian. Istana ini masih bertahan meskipun bukan bangunan utuh karena semakin termakan zaman pun bekas bangunan Kerjaan Padang ini sekarang diurus oleh waris kerajaan.

Ada pula rumah melayu lama dibeberapa tempat, seperti di daerah Bulian Ujung bekas kediaman Tengku Tokoh, yang memiliki ornamen melayu. Di Jl. Syech Baringin, terdapat sebuah makam seorang Sufi bernama Tuan Syech Baringin yang disegani pada masanya. Masih dilokasi yang sama, berdiri bekas rumah kediaman Syech Baringin yang memiliki bangunan mirip Rumah Gadang Sumatera Barat, namun sayangnya kondisi bangunan sudah sangat memprihatinkan karena semakin tergerus usia. Selain itu terdapat makam Datu Ganjang yang terletak di Jl. Darat yang memiliki historis berkaitan dengan Kota Tebing Tinggi, disebut Makam Datu Ganjang karena makam tua tersebut memiki ukuran yang tidak biasa yaitu lebih dari 7 meter, namun sayangnya objek sejarah ini luput dari perhatian pemerintah setempat.

Menelusuri lagi objek wisata, di Kota Tebing Tinggi memiliki tempat wisata yang wajib dikunjungi antara lain Water Park Gundaling yang bisa dikunjungi bersama keluarga karena memiliki kolam renang dengan ukuran kedalaman yang berbeda-beda dan sangat cocok dijadikan referensi liburan akhir pekan. Selanjutnya, Museum Kota Tebing Tinggi yang berlokasi di tengah-tengah kota, berisi macam-macam koleksi benda bersejarah seperti peralatan perang zaman VOC dan zaman Jepang, radio kuno, timbangan, kerajinan tangan dan masih banyak lagi.

Lalu ada Masjid air hangat, nama sebenarnya masjid ini adalah Masjid Al-Hikmah, namun memiliki keunikan air yang digunakan untuk wudhu bersuhu hangat, mengapa demikian? Menurut sejarah pada tahun 1960-an ketika masjid ini dibangun, sumber mata air yang digunakan berasal dari sumber air panas didalam perut bumi yang dibangun Belanda pada tahun 1928. Selain Water Park Gundaling, referensi wisata air yang paling populer di Kota Tebing Tinggi adalah Kolam Renang Lubuk Indah. Kolam Renang ini terletak di Jl. Gatot Subroto. Tak hanya menyediakan 2 kolam renang, pengelola juga menyediakan kolam pemancingan hingga spot-spot foto yang instagramable bagi pengunjung untuk mengabadikan momen liburan.

Tidak lengkap rasanya berjalan-jalan di Kota Tebing Tinggi kalau belum mengunjungi Masjid Agung Tebing Tinggi. Masjid Agung ini terletak di jalan lintas Medan-Pematang Siantar menjadikan Masjid ini sebagai tempat beribadah bagi warga sekitar bahkan pendatang. Masjid Agung Tebing Tinggi mampu menampung hingga 3000 jamaah. Setelah diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara, Bapak Edy Rahmayadi, masjid ini terus melanjutkan pembangunan hingga sampai saat ini.

Karena julukan “Kota Lemang” tentunya membuat Kota Tebing Tinggi menjadi tempat surganya makanan bagi pecinta kuliner. Bahkan ketika mulai memasuki wilayah Kota Tebing Tinggi akan banyak sekali ditemukan orang-orang yang menjajakan lemang disepanjang pinggiran jalan. Dengan bentuk serta harga yang beragam pula. Tak hanya itu, roti kacang sebagai oleh-oleh khas Kota Tebing Tinggi yang bisa menjadi pilihan ketika ingin membelikan untuk sanak saudara di kampung halaman.

Ada pula beberapa lokasi yang dapat dijadikan tempat nongkrong sekaligus wisata kulineran ketika kita berada di Kota Tebing Tinggi, yaitu Pasar Kaget, pasar ini bukan menjual bahan-bahan pokok seperti fungsi pasar pada umumnya melainkan menjual berbagai jenis makanan dan minuman, mulai dari lemang, martabak, roti cane, roti jhon, cendol, es dawet, dan masih banyak lagi. Biasanya pasar kaget ini mulai beroperasi dari jam 4 sore hingga larut malam.

Selanjutnya ada, Lapangan Merdeka atau lebih dikenal dengan Lapangan Sri Mersing, sebenarnya lapangan ini digunakan ketika ada event atau hal-hal yang sifatnya mengumpulkan orang banyak, namun diseputaran luar jalan Lapangan Sri Mersing ketika malam hari tiba, akan banyak orang-orang yang berjualan makanan serta minuman dengan berbagai macam jenis seperti burger, kebab, waffle, minuman-minuman kekinian serta masih banyak yang lainnya. Uniknya, Lapangan Sri Mersing ini dijadikan anak muda sebagai tempat nongkrong atau melakukan berbagai aktifitas, bisa terlihat pada saat malam kamis atau malam minggu. Muda – mudi akan memadati Lapangan Sri Mersing tersebut. Tidak hanya mengenyangkan perut namun juga bisa menambah informasi sejarah, jika berkunjung kedalam halaman Lapangan Sri Mersing ini terdapat Tugu Peringatan 13 Desember 1945 yang merupakan tugu yang dibangun untuk mengingat jasa-jasa para pahlawan. Dengan relief berbentuk bingkai perisai yang diapit padi dan kapas dengan latar belakang perbukitan, dan dibawah symbol terdapat sebuah tulisan “Esa Hilang Dua Terbilang”, yang kini menjadi motto Kota Tebing Tinggi.

Hampir sama dengan Lapangan Sri Mersing, Taman Kota Tebing Tinggi juga merupakan lokasi surga kuliner. Penjual menjajakan makanan dan minuman kekinian yang tidak begitu merogoh kantong. Bedanya, penjual mulai berjualan dari siang hari dan di Taman Kota ini juga banyak orang yang memanfaatkan untuk berjogging di pagi ataupun sore hari. Membuat tempat ini selalu ramai setiap harinya.

Selain tempat-tempat surga kuliner diatas, disekitaran tengah kota Tebing Tinggi terdapat banyak kafetaria yang bisa dijadikan pilihan untuk memanjakan perut. Juga ada gerai untuk pecinta kopi, yaitu Kopi Dolok yang terletak di pelataran halaman Ramyana Tebing Tinggi. Masih ingin yang unik-unik? Di Kota Tebing Tinggi ada kudapan khas India yang bisa dijumpai di restoran India yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani. Restoran ini selalu ramai karena memang hidangan yang disajikan sangat lezat dengan harga terjangkau dan menu yang bervariasi.

Yang tak kalah unik adalah budaya becak yang ada di Kota Tebing Tinggi. Jika di daerah lain becak hanya dijadikan sebagai moda transportasi, lain halnya di Kota Tebing Tinggi, di kota ini becak dijadikan kendaraan untuk berwisata. Biasa rasanya jika ditemui becak yang didandan sedemikan rupa dengan isi penumpang 8-10 orang, lalu mengelilingi Kota Tebing Tinggi dimalam hari. Pasti menambah keseruan wisata.

           Dengan segala keunikan suku, budaya, hingga julukan Kota Tebing Tinggi tak salah rasanya jika menjadikan Kota Tebing Tinggi sebagai pilihan berwisata apalagi jika bersama keluarga. 


-oleh: Syiva Arziah
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

cr image: google.com

Dua puluh satu (21) tahun silam adalah masa-masa tersuram bagi bangsa Indonesia, bagaimana tidak, saat itu banyak mahasiswa yang bentrok dengan aparat kepolisian dan militer, orang-orang yang tidak bersalah juga kena getahnya. Keadaan Indonesia sangat kacau, terutama di bidang perekonomian. Saat itu Indonesia dilanda kriris keuangan global (krisis moneter). Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan inflasi serta lambatnya pertumbuhan perekonomian. Tak hanya itu saja, pada saat itu juga terjadi musibah nasional yang datang secara bertubi-tubi seperti, kegagalan panen di banyak tempat karena musim kering yang panjang dan terparah selama 50 tahun terakhir, penyebaran hama, kebakaran hutan secara besar-besaran di Kalimantan dan peristiwa kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998.

Dikutip dari Eddy Suandi Hamid (2017), melemahnya nilai tukar rupiah pada saat itu karena adanya faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu defisit transaksi berjalan Indonesia cenderung membesar dari tahun ketahun, faktor eksternal yang mendorong terjadinya krisis moneter adalah finansial di tiga kutub dunia yaitu Amerika Serikat, Eropa dan Jepang pada paruh kedua dekade 1990-an, karena perekonomian yang dialami Jepang dan proses ekonomi-politik penyatuan mata uang Eropa.

Kriris moneter yang terjadi ini sempat menimbulkan kecemasan di kalangan rakyat jelata, mereka yang awam akan masalah perekonomian bangsa beranggapan bahwa pemerintah orde baru tidak mampu mengatasi persoalan yang sulit. Di tambah lagi utang luar negeri Indonesia yang terlalu banyak (sejak 1965) telah membuat pemerintah terlena dengan resiko yang akan ditanggung di masa depan.

Jika melihat lagi kebelakang, tidak hanya merosotnya nilai tukar rupiah saja yang menjadi faktor penyebab krisis moneter, ada juga; karena Indonesia menganut sistem devisa yang terlalu bebas menjadikan perusahaan-perusahaan besar bermain di pasar valas, juga bebasnya membuka rekening di luar maupun dalam negeri. Valas bebas diperdagangkan di dalam negeri sementara rupiah juga bebas diperdagangkan di pusat-pusat keuangan di luar negeri. Lalu, penurunan tingkat depresif rupiah yang relatif rendah, ada juga utang luar negeri milik swasta yang jangka pendek dan menengah sehingga nilai tukar rupiah mendapat tekanan, adanya permainan di lingkaran spekulan asing, kebijakan fiskal moneter yang tidak konsisten, juga ikutnya spekulan domestik bermain hingga krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sehingga banyak masyarakat yang membeli dollar Amerika Serikat agar nilai kekayaan mereka tidak merosot dan malah menarik keuntungan dari kemerosotan itu.

Krisis moneter yang terjadi ini disebut juga sebagai krisis fundamental, meskipun pada saat itu fundamental ekonomi Indonesia terbilang cukup kuat; laju inflasi terkendali, tingkat pengangguran relatif rendah, neraca pembayaran secara keseluruhan masih surplus meskipun defisit neraca berjalan cenderung membesar. Pun demikian, agar supaya tidak terjadi kebobrokan fundamental, hendaknya Indonesia melakukan reformasi ekonomi yaitu dengan cara memperbaiki fundamental ekonomi yang bertitik tolak menaikkan sistem kurs, meciptakan politik dan keamanan, melakukan reformasi terhadapp hukum dan birokrasi, dan melakukan pemutihan utang luar negeri.

Terkait dengan itu semua, di tahun 2020 ekonomi Indonesia terancam kembali merosot. Bahkan diprediksi lebih parah dari tahun 1998. Resesi ekonomi global yang menyebabkan itu semua. Seperti yang dikutip dari wikipedia.com, resesi adalah kondisi di mana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan. Adanya penurunan simultan diseluruh aktivitas ekonomi turut menciptakan keadaan di mana pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih. Bahkan kebijakan UMKM dari pemerintah dinilai tidak bisa diandalkan untuk mengatasi resesi ekonomi ini.

Menurut seorang ekonom, Indef  Bhima Yudhistira, saat ini resesi sudah lebih kompleks dibanding pada era 1998. Bahkan perang dagang tidak bisa disimpulkan jadi penyebab utama resesi. Masih terdapat faktor lain seperti Brexit maupun kondisi geopolitik Asia yang juga tak baik. Resesi ekonomi 2020 ini dinilai akan kembali pulih pada 2023-2024.

UMKM sendiri saat ini sudah banyak memperdagangkan barang impor yang diperjual belikan melalui platform digital, keadaan ini sebenarnya sangat disayangkan mengingat resiko yang ditanggung akan lebih berat. Dan jika benar terjadi resesi, bisa di pastikan barang-barang impor tersebut akan mengalami kenaikan yang drastis dan UMKM berisiko gulung tikar.

Meski begitu, bisnis melalui platform digital, digadang-gadang akan menjadi solusi untuk meminimalisir resesi, karena dengan itu, banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja. Juga, permintaan akan bisnis yang berbasis digital semakin tinggi. Namun sangat disayangkan kebanyakan investor atau pebisnis digital platform ini justru datang dari orang asing. Masih mengutip dari Bhima, menurutnya, pada waktu tertentu akan mungkin terjadi fenomena gelembung yang sangat besar dan nantinya akan pecah. Di mana ketika tidak ada investor baru yang akan menangani, ekonomi digital akan menjadi bencana bagi bangsa Indonesia.

Jika di hitung, defisit anggaran hingga akhir 2019 kemungkinan mencapai Rp305 triliun (Direktur Data Indonesia, Herry Gunawan). Kondisi yang demikian akan membuat pemerintah untuk terus membuka peluang mencari utang untuk menutup defisit anggaran. Dan hingga Juli 2019, total uang pemerintah mencapai Rp 4.603 triliun, sebanyak 83% atau Rp 3.821 triliun di antaranya dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN). Juga menurut data, dari sisi kategori kewarganegaraan, pemegang surat utang Indonesia sebagian besar adalah non residen (asing), yaitu sebesar 51,12%.

Dengan ini, sudah seharusnya Bank Indonesia membuat kebijakan serta mengarut interaksi antara makroekonomi dengan mikroekonomi. Kebijakan ini dibuat agar menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung kestabilan perekonomian Indonesia. Selain itu, di harapkan agar Bank Indonesia menjaga kestabilitasan sistem keuangan Indonesia dalam segala kondisi, sekarang maupun di 2020 nanti.


 -oleh: Syiva Arziah


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

cr image: google.com


Mulai banyak kekhawatiran yang muncul akan terjadinya krisis ekonomi tahun ini. Berita buruk yang beredar di media massa maupun media sosial memaksa kami untuk membahas hal ini. Dunia terhentak. Tidak menyangka dampak wabah Covid-19 akan sebesar ini. Semua negara, termasuk negara-negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, dan Jepang, tergagap-gagap merespons wabah Covid-19 Mereka tidak memperkirakan wabah Covid-19 akan sangat cepat menyebar ke seluruh dunia dan berdampak begitu besar terhadap perekonomian. Meskipun lambat menyadari, semua negara sepakat bila dunia sedang menyongsong sebuah krisis besar. Mereka kemudian seakan berlomba mengambil kebijakan mengantisipasi krisis.

Stimulus dikucurkan besar-besaran, hampir tak berbatas. Demikian juga dengan Indonesia. Pemerintah yang awalnya under estimate akan potensi dampak wabah Covid-19 secara bertahap mengubah pandangannya. Skenario terburuk sudah terbayang. Krisis ekonomi seperti sudah di depan mata. Bisa bertahan di zona pertumbuhan positif akan menjadi prestasi yang sangat bagus. Transmisi Krisis Seperti apa krisis yang mungkin terjadi pada tahun ini? Banyak yang meyakini krisis tahun ini akan lebih buruk dibandingkan krisis tahun 1998.

Semua orang bebas berbendapat. Tapi kondisi tahun 1998/99 dengan tahun ini jelas berbeda. Sebelum krisis 1998, Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban Asia. Namun sesungguhnya perekonomian Indonesia ketika itu sangat rapuh. Guru besar Universitas Kyoto Jepang, Yoshihara Kunio, dalam bukunya Kapitalisme Semu di Asia Tenggara (diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1990), menyimpulkan bahwa perekonomian negara Asean (termasuk Indonesia) dibangun oleh para pemburu rente dan spekulator dengan dukungan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Konglomerasi di Indonesia keropos, tidak punya fondasi yang kokoh. Tidak heran ketika terjadi krisis, nilai tukar pada pertengahan 1997 berguguran dan dengan cepat memicu kredit macet. Perbankan yang pada saat itu memang lemah dalam pengaturan dan pengawasan tidak mampu menghadapi gelombang kredit macet. Modal bank terkuras habis dan masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap bank. Krisis nilai tukar berganti krisis perbankan. Pemerintah dan Bank Indonesia sama sekali tidak siap. Berbagai kebijakan diambil secara coba-coba atas kendali IMF. Terbukti kemudian sebagian besar kebijakan tersebut tidak tepat dan justru menjerumuskan Indonesia ke jurang krisis ekonomi yang lebih dalam. Tekanan terhadap perekonomian Indonesia pada 2020 ini jauh lebih besar dibandingkan tahun 1998/99. Tahun ini tantangan kita bukan sekadar gejolak nilai tukar, melainkan pandemi Covid-19 yang melumpuhkan hampir seluruh Negara di dunia.

Perekonomian kita, mulai dari sektor pariwisata dan turunannya seperti hotel dan restauran, transportasi darat dan laut, hingga sektor manufaktur yang sesungguhnya relatif baikbaik saja, tiba-tiba harus melambat dan kemudian berhenti beroperasi akibat dari wabah Covid-19. Berbeda dengan tahun 1998/99, tahun ini usaha mikro dan kecil menjadi sektor yang paling duluan terhempas oleh pandemi Covid-19. 

Jika dulu sektor informal, termasuk ojek, menjadi wadah penampungan mereka yang terkena PHK, tahun ini mereka justru yang pertama kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Perusahaan menengah besar sejauh ini belum terseret krisis. Tapi ditutupnya pabrik dan kantor di tengah kebijakan pembatasan sosial jelas memutus aliran masuk penerimaan perusahaan. Sementara di sisi lain, pengeluaran jalan terus. Karyawan harus digaji, cicilan pokok dan bunga utang bank harus dibayar, kewajiban pajak juga harus dipenuhi, dan biaya operasional seperti listrik dan air mau tidak mau tetap harus dilunasi. Perusahaan yang masih memiliki cadangan kas bisa bertahan dua tiga bulan. Tapi bila dibiarkan terus tanpa bantuan dari pemerintah, perusahaan pasti akan collapse dan memicu terjadinya gelombang kredit macet. Krisis perbankan akan terjadi dan memicu krisis ekonomi yang lebih besar. Berharap dari Stimulus Fiskal Berbeda dengan tahun 1998/99, sekarang kita punya infrastruktur kelembagaan yang lebih siap untuk menghindari krisis. Kita punya OJK dan LPS yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan bersama Kemenkeu dan BI, lengkap dengan protokol penanganan krisis. 

Para pengambil kebijakan juga cukup tanggap menghadapi krisis. Ini dibuktikan dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil oleh masing-masing Lembaga. Stimulus fiskal yang disiapkan Kemenkeu adalah kebijakan yang tepat. Terlepas dari nilainya yang diperkirakan masih terlalu kecil, tetapi peruntukannya sudah sesuai yang kita butuhkan untuk menghindari krisis, yaitu meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan agar bisa mempercepat penanggulangan wabah, meningkatkan jaring pengaman sosial untuk membantu masyarakat kecil yang terdampak, serta meningkatkan ketahanan dunia usaha. Stimulus fiskal untuk meningkatkan ketahanan dunia usaha akan menjadi kunci untuk menghindari krisis. Dengan bantuan pelonggaran pajak, tekanan defisit aliran kas yang dialami dunia usaha akan terkurangi. Dunia usaha juga semakin terbantu oleh kebijakan OJK yang mempermudah restrukturisasi kredit, sehingga kewajiban pembayaran cicilan pokok dan bunga kredit bisa dikurangi menyesuaikan kemampuan perusahaan. Pelonggaran restrukturisasi sekaligus juga meningkatkan ketahanan perbankan dan lembaga pembiayan dari tekanan kredit macet. 

Efektivitas stimulus fiskal sangat ditentukan oleh kecepatan dan ketepatan dalam eksekusi. Kita tidak punya waktu untuk berdiskusi. Ketepatan sangat mungkin dikorbankan untuk mengejar kecepatan. Masyarakat dan dunia usaha yang terdampak wabah Covid-19 tidak bisa menunggu. Di sisi lain, pembiayaan stimulus fiskal juga harus diputuskan cepat. Perpu dalam hal ini adalah antisipasi tepat dari pemerintah untuk membuka ruang pembiayaan stimulus fiskal oleh Bank Indonesia. Potensi terjadinya krisis pada tahun ini adalah nyata. Bukan karena perekonomian kita lemah dan rapuh tetapi lebih dikarenakan permasalahannya yang lebih berat dan kompleks. Meskipun potensinya besar, krisis belum terjadi dan masih bisa dihindari . tanrangan yang kita hadapi memang sangat besar dan sulit diprediksi. Tapi banyak alasan untuk tetap optimis. 

        Berdasarkan data Kemenaker per 20 April 2020, terdapat 2.084.593 pekerja dari 116.370 perusahaan dirumahkan dan kena PHK akibat terimbas pandemi corona ini. Adapun rinciannya, sektor formal 1.304.777 pekerja dirumahkan dari 43.690 perusahaan. Sementara yang terkena PHK mencapai 241.431 orang dari 41.236 perusahaan.

        Dampak pandemi global COVID-19 ini sangat signifikan bagi perekonomian Indonesia. Pelemahan perekonomian diproyeksikan akan terjadi selama 4-6 bulan ke depan. Bahkan bisa jadi lebih lama, karena kita belum bisa memprediksikan kapan wabah ini bisa teratasi dengan tuntas.

        Pada fase awal wabah ini di Indonesia, sektor pariwisata, penerbangan, perhotelan, ritel dan restoran langsung terpukul. Dampak terhadap sektor lain, perlahan akan semakin terasakan. Hal ini tentu akan berimbas pada nasib pekerja. Meski pun Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah meminta pengusaha tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), namun opsi ini dikhawatirkan masih akan ditempuh dalam menghadapi krisis saat ini.

        Di Jakarta saja telah ada sebanyak 162,416 pekerja telah di-PHK dan dirumahkan tanpa upah sebagai imbas COVID-19. Situasi krisis saat ini bisa jadi membuat pengusaha tidak punya pilihan lain selain melakukan PHK karena mereka harus menekan biaya operasional besar-besaran. Namun Undang-Undang (UU) No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sudah menegaskan bahwa PHK seharusnya menjadi langkah terakhir yang ditempuh. Sebelum melakukan PHK, UU Ketenagakerjaan mengatur bagaimana pengusaha, buruh, serikat buruh, dan pemerintah harus bekerja sama agar tidak terjadi PHK.

        Opsi PHK bisa jadi langkah terakhir yang akan ditempuh. Langkah ini menjadi situasi buruk terutama bagi pekerja. PHK akan berdampak sangat serius pada perekonomian keluarga pekerja. Di sisi lain, pengusaha juga dalam posisi yang sulit karena harus memenuhi kewajiban bagi karyawan yang mengalami PHK.

    Tugas pemerintah dan kita dalam menyelesaikan pandemi COVID-19 ini masih panjang. Penyelamatan warga dan menekan penyebaran virus menjadi fokus utama saat ini. Kita berharap pandemi COVID-19 ini bisa segera teratasi dengan tuntas sehingga pemerintah dengan dukungan semua pihak bisa segera memulihkan ekonomi.

-oleh: Yossi Zulmis Sandra
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


cr image: google.com

            Selesai menjalankan bulan Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1441 H, tahun 2020 ini puasa dan lebaran terlihat berbeda dengan sebelumnya. Sebab, itu adanya pandemi Covid-19, masyarakat di tempat tinggalnya tidak bisa menikmati hari kebahagian seperti buka bersama bersama dengan keluarga dan teman hingga mudik juga dilarang yang diterapkan pemerintah sebagai untuk mengantisipasi masyarakat dalam pencegahan penularan wabah Covid-19.

            Mudik ini suatu keharusan yang menjadi setiap tradisi bangsa Indonesia, yang dilakukan keluarga, kerabat maupun teman-teman sehingga sekarang ini banyak di antara kita keterkaitan mudik di larang oleh pemerintah yang di berlakukan sejak 24 April 2020 lalu. Ada juga di antara kalangan lain tidak menerima hal ini, sontak membuat banyak orang yang protes keras.

            Mereka sangat kecewa, mengapa pemerintah melarang hak pribadi seperti ini? Padahal, mudik hanya dilakukan setahun sekali. Pemudik juga ngotot ingin pulang kampong, setiap orang merasa kerinduan berjumpa dengan sanak keluarga untuk bersilaturahmi atau berhubungan sosial dengan yang lainnya.

            Keputusan Jokowi atas larangan mudik lebaran ini juga telah direspon oleh kepala daerah  di Indonesia, salah satu Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi memberikan imbauan kepada warga Sumut terkait larangan mudik yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Imbauan ini dilansir pada kanal Youtobe resmi miliki Humas Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

            Dalam video tersebut, Edy Rahmayadi menyampaikan warga Sumut tidak melakukan perjalanan baik itu keluar atau masuk ke Sumut dalam rangka mudik lebaran. Hal ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19yang kini semakin merebak luas.“Saya mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudik, baik itu keluar atau masuk ke Sumatera Utar,”ujarnya

           Nah, Indonesia sedang dalam keadaan kritis atau terkena Covid-19. Maka untuk tahun ini mudik  untuk segala kalangan pertimbangan untuk tidak diperbolehkan mudik. Ada berita pernah saya baca salah satu pendapat bahwa harusnya pemerintah harus bersikap tegas  terkait larangan mudik ini.

    Hendaknya warga Indonesia bertindak dengan bijak, di tengah pandemi Covid-19 kita harus mematuhi anjuran untuk stay at home, menaati PSBB dan menuruti untuk tidak mudik lebaran. Bukanya mengatur tapi larangan ini juga demi kebaikan sendiri untuk saat ini guna mencegah penyebaran virus corona , ada hal baiknya semua kegiatan harus dibatasi apa lagi masalah kegiatan yang lainnya dapat mengumpulkan massa sesuai dengan hukum yang berlaku.

        Oleh karena itu, sebagai pengganti mudik anda bisa melakukan dengan video call untuk berminta maaf-maafan bersama orangtua dan kerabat nan jauh disana. Manfaatkan teknologi ini untuk silaturahmi secara online. Mereka pasti memaklumi, mengapa kita semua tidak bisa mudik lebaran tahun ini. Aturan dari pemerintah untuk tidak pulang kampong hendaknya kita harus ditaati, demi keamanan bersama. Kita bersama melawan corona dengan cara berdiam diri di rumah memakai masker non medis, menjaga kebersihan, makanan bergizi dan jaga jarak ketika terpaksa harus keluar untuk berbelanja.

        Jadi, jangan sampai saat mudik jadi menderita karena terkena virus Covid-19 dan bahkan menularkan banyak orang di kampong halaman. Pemerintah sangat memperhatikan kesehatan dan keselamatan rakyatnya. Maka, bersabarlah untuk tidak mudik hanya lebaran tahun ini dan menaati aturan yang berlaku. Semua larangan ini demi keamanan sendiri dan keluarga agar tidak terjangkit corona. 

 -oleh: Yossi Zulmis Sandra

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

ABOUT US

About Us

Kelompok 1 Jurnalistik Online |
Anggota: Siti Chairunisa, Syiva Arziah, Yossi Zulmis Sandra.

CONTACT US

  • instagram
  • twitter
  • instagram

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (16)
    • July 2020 (16)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates